Kemana Air Hendak Mengalir


Kemana air hendak mengalir? Pertanyaan ini secara mudah dapat dijawab bahwa air akan mengalir dari tempat yang lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Jawaban sederhana ini tentu saja sudah cukup menjadi senjata ampuh atas pertanyaan tadi,  bahkan untuk seorang bocah sekalipun karena kita semua mengenal kodrat sunatullah air tersebut.

agungjakarta1

Air adalah makhluk Tuhan. Sebagai makhluk Tuhan, sudah pasti air memiliki kewajiban untuk tunduk dan patuh terhadap semua perintah Tuhan yang dirumuskan dalam sunatullahnya air. Ketika air harus mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah, ia akan patuh 100% terhadap perintah tersebut. Dialangana menggok, dipalangana mlumpat, dibendung nerjang! Demikian ngelmu air, dihalangi akan berbelok untuk mencari jalan lain, dan jikapun dibendung ia akan melompati bendungan jika daya tampungnya telah terlampaui.

Secara sunatullah juga, Tuhan sesungguhnya juga telah menitahkan mekanisme dan infrastrutur siklus ataupun alirannya. Konon air diciptakan oleh Tuhan dalam jumlah yang konstan alias tetap dari masa ke masa. Sebagaimana energy, air dapat berubah wujud menurut situasi tekanan dan temperature di sekitarnya. Uap air yang jenuh di langit mengalami pengembunan untuk selanjutnya menjadi gumpalan awan dan mendung yang akan turun menjadi titik air hujan. Air hujan jatuh di pepohonan, atap rumah, rerumputan dan permukaan tanah untuk selanjutnya mengalir di permukaan tanah atau meresap tembus ke lapisan bumi. Air masuk ke lapisan kulit bumi lambat laun ada yang meuncul menjadi mata air. Mata air mengeluarkan air yang menjadi sumber keberadaan sungai ataupun danau dan telaga. Aliran sungai dapat mengantarkan air menuju ke laut untuk sebagian diantaranya menguap kembali  dan naik ke lapisan langit. Itulah kurang lebih gambaran siklus “kehidupan” air dalam mendukung kehidupan makhluk Tuhan yang lainnya.

Ketika jumlah manusia dari hari ke hari kian bertambah, maka eksplorasi terhadap alam menjadi kian tak terkendali. Kerusakan alam terjadi semakin meluas dan mengakibatkan degradasi daya dukung lingkungan hidup. Penggundulan hutan, alih guna daerah aliran sungai, kawasan pemukiman yang semakin padat, sistem drainase yang semrawut, ditambah dengan kebiasaan membuang sampah dan limbah ke badan sungai menjadi pengganggu air dalam melaksanakan tugas sunatullah. Pada titik inilah air justru kemudian menjadi “kurang berkah” dan justru hadir menjadi “masalah”.

agungpasarbaru1 BanjirHarmoni

Apakah air benar menjadi sumber masalah yang membuat manusia susah? Jika kita kembali kepada firman Tuhan yang menyatakan bahwa “Telah nampak kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia”, maka memang manusialah yang telah menggali masalahnya sendiri. Manusialah yang menjadi pelaku utama atas kerusakan alam dan lingkungan hidup. Kebijaksanaan manusia dalam mengambil daya guna dan manfaat alam harus senantias berimbang dengan kemampuan daya dukung lingkungan. Keseimbangan alam inilah yang seharusnya menjadi landasan berpikir, bersikap dan bertindak manusia dalam memanfaatkan alam.

 Setiap sesuatu, apapun itu, akan memiliki kemanfaatan dan daya guna yang optimal apabila ia hadir dalam satuan ruang dan waktu yang paling pas, tidak kurang ataupun berlebihan. Kurangnya air di masa kemarau tentu menjadi masalah terhadap kecukupan kebutuhan makhluk akan air. Namun demikian, air yang berlebih di musim penghujan juga bisa membawa malapetaka banjir ataupun tanah longsor yang tentu saja merugikan manusia. Namun dibalik itu semua, adakah air sedang marah?

BanjirHarmoni2 BanjirHarmoni1

Air adalah air, ia hanyalah makhluk Tuhan yang setia menjalankan tugas sunatullahnya. Air memiliki kearifan untuk tidak memiliki nafsu amarah. Jika manusia merusak hutan, mengganggu aliran sungai, menghilangkan fungsi resapan air, maka di sinilah kunci permasalahannya. Air hanyalah menjalan reaksi dan aksi-aksi manusia. Maka manusialah yang justru telah memicu sumber masalah yang di kemudian hari akan terakumulasi dan dipanen sebagai “bencana atau musibah, apakah itu bernama banjir bandang, banjir kiriman, air bah, ataupun tanah longsor.

Satu contoh daerah bagus untuk sebuah pembelajaran tentang kasus banjir ya ibukota Jakarta. Terlepas dari permasalahan hulu di kawasan Puncak dan aliran utama Kali Ciliwung di sepanjang wilayah Bogor dan Depok, air ketika tiba di Jakarta mungkin akan bingung untuk menempuh jalur aliran yang mana? Pinggiran sungai dijadikan pemukiman, badan sungai menjadi tempat pembuangan sampah raksasa, pembangunan pemukiman, pusat bisnis, perkantoran dan lain-lainnya sudah sedemikian mengabaikan fungsi aliran dan resapan air yang benar. Maka air tetaplah air yang menjalankan tugas untuk mengalir dari tempat yang lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Dialangana menggok, dipalangana mlumpat, dibendung nerjang!  Air akan menerabas, menembus, menabrak, bahkan menghantam apapun yang menghalangi tugas sucinya. Maka jangan pernah berkata bahwa banjir merupakan kemarahan air!

anungistana1 renggalibur1

Jakarta di hari-hari ini mungkin akan terus menerima guyuran hujan langsung dari langit dan juga kiriman banjir dari hulu kawasan Bogor. Kepadatan manusia Jakarta dikarenakan terkonsentrasinya uang dan segala macam peluang manusia untuk bekerja mencari penghidupan tentu akan semakin memperberat beban ibukota. Lalu apakah wacana tentang pemindahan ibukota Negara ke wilayah lain itu hanya akan terus menjadi wacana kosong?

Air sejatinya bersifat netral. Kegiatan manusia yang eksploitatif terhadap alam Jakarta telah memposisikan air yang datang tidak memiliki alternative plihan kecuali maju terus, mengalir terus, pantang mundur, rawe-rawe rantas malang-malang tuntas! Jika sudah demikian yang tejadi, bukankah karma buah perbuatan manusia itu akan dituai sendiri? Anak-anak telantar sekolah. Para pekerja dan karyawan tidak bisa pergi ngantor. Apakah persoalan ruwetnya ibukota Jakarta dengan tardisi macet dan banjirnya mesti akan ditambah dengan pemasungan jam masuk kerja yang tidak rasional, meski atas nama reformasi birokrasi sekalipun? Mestinya para petinggi pembuat kebijakan bisa berpikir secara jernih dan menggunakan hati nuraninya sebelum menetapkan kebijakan yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Hendaknya kita semua bisa bercermin dari air banjir yang mengalir hari ini untuk menemukan kembali rasionalitas dan moralitas kita.

Lor Kedhaton, 17 Januari 2013

Foto-foto diambil dari sini.

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Tulisan ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Kemana Air Hendak Mengalir

  1. jakober berkata:

    padahal sederhana ya, air mengalir dari yang tinggi ke yang rendah secara konsisten. tapi kok insinyur ae kerepotan ngurusi banyu.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s