Menembus Rimba Menuju Tangguh

Catatan Ekspedisi Radiasi Papua Barat (5)

Tangguh, sebagaimana pemahaman kita dapat disetarakan maknanya dengan kuat ataupun kokoh. Ternyata kata tangguh juga digunakan sebagai nama sebuah tempat di jantung Teluk Berau, Papua Barat. Tangguh merupakan area seluas kurang lebih 500 hektar yang menjadi sentral eksploitasi gas alam yang dioperasionalkan oleh British Petroleum Tangguh atau disingkat BP Tangguh. BP sendiri merupakan perusahaan internasional yang bergerak di bidang eksplorasi dan eksploitasi migas dari Negerinya Ratu Elisabeth.

travira-airPerjalanan kami dalam rangka misi Ekspedisi Radiasi di Papua Barat berlanjut dengan lokasi yang lebih terpencil daripada Pulau Salawati yang sebelumnya telah kami kunjungi. Tangguh berada di sisi selatan Teluk Bintuni. Tangguh merupakan salah satu kelanjutan kisah episode babad migas di Babo. Tangguh berlokasi kurang lebih 27 mil laut sisi barat Pantai Babo. Sekitar 1 jam 20 menit perjalanan menggunakan kapal laut. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Menyeberang ke Salawati (2)

Catatan Ekspedisi Radiasi Papua Barat (4)

KMT atau Kasim Marine Terminal merupakan dermaga pelabuhan yang mengubungkan daratan selatan Kepala Burung menuju ujung Pulau Salawati. Semenjak pemerintah Hindia Belanda, melalui NNGPM, mengendus dan cadangan minyak bumi dan gas di kawasan Papua Barat, maka Pulau Salawati merupakan daerah yang pertama kali dieksplorasi. Hal ini berlangsung sebelum mereka merangsek lebih jauh ke perairan pedalaman di Teluk Bintuni dan mencapai Babo.

salawati2Selepas hengkangnya Belanda dari Bumi Papua, sebagian besar perusahaan komersial milik Belanda dinasionalisasi. Berkaitan dengan pengelolaan tambang migas, dalam perkembangannya pemerintah memberikan kesempatan masuknya penanaman modal asing. Salah satu perusahaan modal asing yang beroperasi di Pulau Salawati adalah Petrocina. Petrocina inilah yang merintis dan membangun KMT. Setelah perusahaan Petrocina diakuisisi oleh Petrogas, maka keberadaan KMT saat ini juga dibawah kepemilikan dan pengelolaan Petrogas. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Menyeberang ke Salawati

Semenjak melihat di atas hamparan peta, jarak bentangan tempat kami terasa tidak begitu jauh. Hanya kurang lebih 120 km perjalanan darat. Namun jika membayangkan jalanan tanah kasar ataupun sirtu (pasir+batu) di berbagai pesisir Papua, tentu perjalanan kali inipun tidak bisa dibilang ringan. Karim Marine Terminal di sisi bawah daratan Kepala Burung menjadi titik tumpu kami untuk menyeberang menuju Pulau Salawati.

salawati1Dengan mobil Forturner double gardan, seorang sejawat kami menjemput di tempat penginapan. Sebelum memulai perjalanan, terlebih dahulu kami harus mampir ke Kantor PT Pertamina EP untuk mengambil surat jalan dan juga perlengkapan pakaian dna helm keselamatan. Bagaimanapun kami tentu tidak dapat serta-merta mengabaikan pemenuhan terhadap persyaratan keselamatan dengan standar tinggi sebelum memasuki area dengan potensi risiko bahaya yang tinggi pula. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Palang Kayu – Kain Merah

Tanah merah, buah merah, dan beberapa hal yang serba merah mungkin tidak salah bila dipersepsikan dengan Papua. Sisi barat pulau Papua yang menjadi wilayah Republik Indonesia dan dulunya diberikan nama sebagai Ikut Republik Indonesia Anti Nederland (IRIAN) pada awalnya memang merupakan kawasan yang tidak tersentuh dunia luar. Berbagai suku asli yang menjadi penduduk pulau ini kebanyakan berada di pegunungan-pegunungan yang berjajar di wilayah pedalaman.

Berbicara mengenai Papua Barat, khususnya wilayah Sorong, cikal bakal penduduk asli daerah ini dikenal sebagai suku Malamoi atau kini lebih sering disebut suku Moi saja. Di samping berkaitan erat dengan tanah merah maupun buah merah, orang Moi juga sangat lekat dengan kain merah. Kain merah, pita merah, tali merah ataupun benang merah seringkali hadir bersama palang kayu. Palang kayu dengan kain pita merah yang terikat padanya memiliki makna adat yang sangat kuat bagi orang Moi. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Menapaki Bumi Papua Barat

Perjalanan kali ini sejatinya merupakan perjalanan terjauh saya di wilayah negeri tercinta. Dengan durasi penerbangan hampir lima jam, seiring terbitnya fajar di ufuk timur, pesawat yang membawa kami mendarat selamat di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong. Dini hari hingga pagi itu kami seolah benar-benar menyongsong, bahkan mempercepat datangnya mentari pagi.

bandara-sorong  bandara-sorong1

bandara-sorong2Sorong merupakan kota terpenting di Provinsi Papua Barat. Meskipun secara definitif pusat pemerintahan Provinsi Papua Barat yang terbentuk dari pemekaran Provinsi Papua yang dulunya dikenal sebagai Irian Jaya, adalah Manokwari, namun perkembangan Kota Sorong melampaui ibu kota provinsinya. Sorong menjadi pintu gerbang yang sangat penting untuk menuju destinasi wisata bahari di Kepulauan Raja Empat. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Pencuri di Parkiran

Hari-hari ini sebenarnya si Noni masih belum sembuh dari sakit batuknya. Meski sudah dua mingguan dan sudah dua kali diperiksakan ke dokter, ternyata batuknya tetap bandel. Meski dalam kondisi kumat-kumatan batuk yang membuat kami miris, si Noni tetap semangat dolan kalau sudah melihat Bapak-Mamanya week end. Dan permintaannya kali ini ke Mall Momoking di sebelah kampung yang katanya mall terbesar se Asia Tenggara itu.

Selepas Maghriban di Al Mubarok, kami sak brayatpun bergegas menuju mall tersebut. Sebelumnya si Ponang sempat pesen lele kremes di warung tenda depan masjid. Lele adalah makanan terfavorit baginya, sehingga sebelum ke mall ia sudah memprioritaskan diri mbungkus lele kremes goreng dalam sebuah plastik kresek warna hitam. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | Meninggalkan komentar

Geger Pak Bei Ikut PON

Sepagi itu kampung Pak Bei sudah dilanda kegemparan. Ada geger rumah tangga di rumah Pak Bei. Seketika matahari bangun dari peraduannya, terdengar tangis Bu Bei nggero-nggero. Beberapa ibu-ibu tetangga kanan-kiri Pak Bei segera mendatangi rumah Pak Bei. Sambil ngrubungi Bu Bei, mereka berusaha menenangkan situasi.

Pokoknya aku nggak trima Pak Bei ikut Pon! Kalau begini caranya aku lebih baik minta cerai! Cerai….titik!“suara Bu Bei sambil menahan isak tangis. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | Meninggalkan komentar