Aroma Mafia Haji

Seorang rekan beberapa pekan silam berkisah tentang krenteknya naik haji ke tanah suci. Meskipun baru sekedar mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji yang harus menunggu atrian 15 tahun, namun seolah ada kelegaan ketika ia telah membulatkan tekad untuk menjawab panggilan yang mungkin masih sangat sayup-sayup terdengar dari jarak waktu yang masih panjang tersebut. Hal ini tentu sangat berbeda dengan diri penulis yang masih terus merasa tidak memiliki modal iman dan ketaqwaan yang mencukupi sehingga mampu mendengar getar panggilan Tuhan. Terlebih soal modal biaya karena tanggungan sekolah anak-anak dan berbagai kebutuhan, ditambah lagi dengan sikap tak tega hati melihat diri sendiri dan sesama rakyat yang masih serba kekurangan.

Setelah akhirnya mendaftarkan diri melalui sebuah bank yang memberikan layanan pendaftaran calon jamaah haji, rekan saya tersebut sempat bercerita kepada rekan lain yang kebetulan istrinya bekerja di kementerian yang mengurusi penyelenggaraan ibadah haji. Mendengar antrian 15 menunggu untuk dapat berangkat, meskipun sebelumnya sudah harus melunasi sebagian besar biaya haji, rekan saya yang lainnya tadi memberikan sebuah saran urun rembug. Menurut dia, jika ingin ndesel alias melompati antrian sehingga dapat menyingkat waktu antrian, ada cara yang bisa ditempuh. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Tinggalkan komentar

Randa Royal

Dalam khasanah bahasa Jawa, kata randa berbeda makna dengan ronda. Memang sangat kebetulan jika kata randa berarti janda. Berbeda satu huruf awal, berbeda bahasa, namun memiliki arti yang sama. Randa, ya janda itu tadi. Seorang perempuan yang pernah berumah tangga namun kemudian berpisah dari sang suami. Entah sebab suami meninggal dunia, maupun akibat proses perceraian. Itulah randa yang saya maksudkan.

Dalam jagad perkulineran masyarakat Jawa, randa royal sebagaimana yang saya tuliskan sebagai judul tulisan ini, juga merupakan nama jenis makanan yang dikenal di kalangan masyarakat umum. Randa royal merupakan gorengan yang terbuat dari tape ketela yang ditumbuk lembut seperti adonan tepung kemudian dibulat-bulat. Nah bulatan tersebut selanjutnya dibalut adonan tepung untuk kemudian digoreng dalam minyak panas. Kombinasi antara rasa tape dan kulit tepung yang gurih menghasilkan cita rasa randa royal yang sangat khas. Nyamikan sederhana ini sangat cocok menemani sajian kopi atau teh hangat. Terlebih pada saat suasana hujan gerimis. Wis, mak yuuus habis wis! Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Pujian Isra’ Mi’raj

Isra MirajTanpa sadar dan benar-benaan dan paham kalender Hijriyah, rupanya hari ini bertepatan dengan 27 Rajab 1436 H. Mengenai tanggal tersebut, mungkin kita tahu bahwa hari tersebut merupakan peringatan Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad SAW.  Dari peristiwa penting inilah ummat Islam, melalui Rasulnya, menerima perintah sholat wajib lima waktu sehari semalamnya. Isya’, Subuh, Luhur, Ashar, dan Maghrib, jadilah tepat kita singkat menjadi ISLAM.

Sebagai sebuah kisah sejarah yang didongengkan oleh para guru agama maupun guru ngaji di kampung-kampung, peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan sebuah “cerita dongeng” yang sangat menarik bagi anak-anak. Antara nyata dan tidak nyata, antara sekedar dongeng dengan sebuah realita sejarah, antara percaya dan tidak percaya, bagi para bocah memang segalanya masih dipertanyakan berdasarkan logika pemikiran yang lurus. Namun seiring keterbatasan pengetahuan dan strategi komunikasi, para penutur kisah Isra’ Mi’raj seringkali memilih untuk mendoktrinasi kisah tersebut sebagai dogma yang harus diyakini berlandaskan keimanan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Tinggalkan komentar

Nderes Qur’an

Sudah pasti setiap ummat Islam tahu bahwa ayat Al Qur’an yang diturunkan pertama kali berkaitan langsung dengan membaca. Terkait langsung dengan kitab suci kaum muslim ini, membaca Al Qur’an merupakan salah satu amal ibadah yang penuh hikmah. Dari berbagai riwayat bahkan kepada setiap pembaca ayat-ayat suci tersebut diberikan pahala dalam hitungan per huruf, bukan per kalimat, bukan per surat ataupun per juz. Betapa sangat pemurah Gusti Allah Yang Maha Pemurah.

Atas dasar latar belakang itulah kaum muslim, terutama di dusun-dusun pada zaman dulu, sangat istikomah untuk mengisi waktu selepas Maghrib hingga Isya’ dengan membaca Al Qur’an. Kegiatan ini bisa dilaksanakan secara bersama-sama di masjid atau langgar, ataupun di salah satau rumah warga yang dijadikan tempat ngaji. Ada pula warga yang membaca Al Qur’an di rumahnya masing-masing. Jadilah waktu-waktu tersebut selalu terdengar gema lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an. Suasana dusun hampir-hampir mirip dengan suasana kota santri, demikian barangkali ungkapan dari kelompok qosidah Nasidaria pada jamannya. Sungguh sebuah suasana yang menentramkan dan menyejukkan hati bagi siapapun yang tersentuh nuraninya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Tinggalkan komentar

Musik Gelombang Ke Tiga

Kenduri Cinta Mei 2015, sebagaimana tema yang diketengahkan “Kiai Kanjeng of the Unhidden Hand”, memang didedikasikan sepenuhnya untuk menggali pengenalan lebih mendalam mengenai kelompok musik gamelan Kiai Kanjeng. Akar asal-usul dan sejarah berdirikan Kiai Kanjeng tidak bisa dilepaskan sama sekali dari proses kreativitas dan karya adilihung kelompok asal Jogjakarta ini.

Berawal dari kelompok karawitan Dinasti yang menjadi satu kesatuan dengan Teater Dinasti, Kiai Kanjeng terlahir dari Komunitas Pak Kanjeng yang merepresentasikan pembelaan terhadap hak-hak wong cilik yang terkena gusuran pembangunan waduk Kedongombo di Boyolali pada pertengahan dekade 80-an. Pak Kanjeng merupakan sebuah lakon naskah teater yang diinspirasi dari tokoh Pak Jenggot di desa Kedungpring dan dituliskan oleh Emha Ainun Nadjib. Naskah monolog yang diperankan secara bergantian oleh Butet Kertarajasa, Nevi Budiyanto, dan Cak Nun sendiri merupakan sebuah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan Orde Baru. Hanya sempat dipentaskan beberapa kali, penampilan kisah Pak Kanjeng menuai cekal dari yang berwajib kal itu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Gamelan Kiai Kanjeng

Tombo Ati adalah sebuah syair puji-pujian yang sering kami lagukan sambil menunggu iqomad dikumandangkan di masa kecil kami. Syair yang konon diciptakan Kanjeng Sunan Bonang ini, seolah memang menjadi pelipur hati yang mendatangkan ketentraman mendalam jika direngeng-rengengkan.

Meskipun syairnya seolah sangat sederhana, namun Tombo Ati menyimpan kandungan makna yang sangat dalam sekaligus sufistik. Lewat aransemen ulang tembang Tombo Ati inilah saya mengawali perkenalan dengan Kiai Kanjeng, sebuah kelompok gamelan dari Jogja pada paruh tahun 90-an. Melalui sebuah kolaborasi apik dengan budayawan Emha Ainun Nadjib, Kiai Kanjeng menghadirkan aransemen album berjudul Kado Buat Muhammad. Waktu itu album berbentuk kaset pita dipinjamkan kepda saya oleh seorang teman dari Muara Kali Progo. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Dua Tahun Gus Mul Berkibar

Gus Mul? Siapa yang tidak kenal dengan blogger kondhang kaloka dari kota gethuk ini. Goresan postingannya yang trengginas bin lucu di samping menghiasi tampilan blog pribadinya di www.agusmulyadi.com, www.agusmulyadi.web.id maupun di www.gusmul.com, bualan dagelannya juga banyak terpampang di www.merdeka.com. Seberapa Sampeyan mengenal akrab dengan tokoh kita yang mengaku tidak pernah lulus pesantren namun bisa mendapatkan panggilan Gus ini?

Gus Mul bernama lengkap Agus Mulyadi. Jadi Gus Mul merupakan akronim alias kependekan dari nama Agus Mulyadi tersebut! Lho baru ngeh? Tentu saja kita tidak akan sangsi jika Gus Mul mengaku lahir di bulan Agustus, bulan yang sangat keramat bagi bangsa Indonesia. Demikian pulakah sosok Gus Mul juga memiliki kharisma keramat? Ingin tahu asal-usul sebutan Gus Mul nggak? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Blogger | Tag , | Tinggalkan komentar