Buku Dibayar Dengan Buku

SampulBukuIbarat kata, nyawa dibayar dengan nyawa. Atau mungkin surat dibalas dengan surat, dan lain sebagainya. Di samping istilah yang sudah lazim tadi, rupanya ada pula buku dibayar dengan buku. Jika buku dibayar buku, apakah ini semacam pola perjual-belian secara barter sebagaimana manusia jaman dahulu menjalankan aktivitas ekonominya?Dan saya sendiri belum lama ini mengalami peristiwa dimana buku dibayar dengan buku.

Buku dibayar dengan buku? Apa maksudnya? Sebagaimana pernah saya tuliskan dalam beberapa edisi postingan sebelumnya, pada tahun ini sebuah naskah buku yang telah saya kirimkan kepada sebuah penerbit akhirnya berhasil diterbitkan menjadi sebuah buku. Meskipun buku tersebut hanya sekitar seratusan halaman tebalnya, namun sebagai sebuah pencapaian kreativitas dan karya penulisan, hal tersebut sangat berarti dalam sejarah hidup saya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Sastra | Tag , , | Meninggalkan komentar

Napak Tilas Makam Sunan Ampel

Ampel1Pagi itu bertepatan dengan hari Jumát. Hujan deras mulai mengguyur Surabaya begitu matahari naik sepenggalah. Sedari hari sebelumnya, berhubung tanggungan pekerjaan sudah selesai, saya merencanakan untuk menunaikan sholat Jumát di Masjid Sunan Ampel. Bagi saya dapat melaksanakan ibadah Jumát di suatu tempat yang sangat bersejarah bagi perkembangan penyebaran Islam adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Diiringi rintik gerimis yang masih turun dari langit, saya bersama seorang teman bergegas menyusuri sebuah lajur trotoar di Jalan Pemuda Surabaya. Selepas melewati Monumen Kapal Selam di tepian Kali Mas, kamipun menyeberangi jembatan yang menghubungkan ke titik ujung Jalan Sumatera di depan Stasiun Gubeng. Dari sanalah perjalanan kami mulai dengan menumpang angkot warna kuning lane F menuju daerah Ampel. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , | Meninggalkan komentar

Teror Modal Kolor

Magelang, kotaku tercinta, memang kota yang adem ayem. Saking adem ayemnya, Magelang sangat jarang terdengar di dunia pewartaan Indonesia. Meskipun Borobudur yang dulu pernah menjadi salah satu keajaiban dunia berada di Magelang, namun Magelang termasuk jarang disebut orang. Media nasional, apalagi internasional hampir tidak perna ada yang melansir dinamika denyut nadi kehidupan warga Magelang.

Teror Magelang

Magelang yang tadi saya katakan adem ayem itu, kini sedikit terusik. Kota yang seolah mendapat jaminan keamanan karena keberadaan AKMIL dan dua batalyon Armed, di samping tentunya aparat kepolisian, kini tengah dilanda tindakan teror yang mengganggu rasa aman masyarakat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Magelangan | Tag , , | Meninggalkan komentar

Surabaya Yang Bertambah Gaya

Sebelumnya, sudah sekitar sekira empat tahun tidak lagi merambah Surabaya. Sebagai kota metropolitan setelah Jakarta, Surabaya yang panas oleh angin laut juga banyak didera kemacetan. Jalanan padat, berasap, dan penuh kendaraan merayap sudah menjadi hal yang biasa. Kala itu Bu Risma belum berapa lama menjabat pucuk pimpinan pemerintahan Kota Surabaya.

Pemkot Sby1Semenjak awal menduduki jabatan orang nomor satu di Surabaya, Bu Risma sudah “mencuri” perhatian banyak kalangan. Berbagai media memberitakan sepak terjang beliau dalam membenahi berbagai hal di Surabaya. Taman, trotoar, selokan, sungai, perumahan, pedagang kaki lima, bahkan lokalisasi Dolly tidak lepas dari sentuhan tegas tangan Risma. Kini apa jadinya Surabaya di masa kepemimpinan periode ke dua walikota perempuan yang ternama di negeri kita saat ini?

Dari pengamatan selintas saya, Surabaya empat tahun yang lalu sudah sangat berbeda dengan Surabaya di hari ini. Sebagai orang yang sangat jarang merambah Kota Pahlawan, tentu saja saya sangat pangling dengan perkembangannya yang sangat pesat. Sebagaimana kesemrawutan yang saja gambaran di awal tulisan ini yang bahkan hampir mengejar keruwetan Jakarta kini sedikit banyak sudah mulai ada pembenahan-pembenahan serta perbaikan yang cukup berarti. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kondurnya Simbah Putri

SimbahBerita itu memang saya dengar sedikit terlambat. Tanpa saya sadari, ternyata beberapa panggilan masuk di hand phone semenjak petang menjelang. Namun ndilalah, hand phone tersebut ngendon di kantong baju yang menggantung di gantungan baju dalam posisi silent. Jadilaha panggilan yang banyak itu tidak terespon dengan semestinya.

Melalui respon sebuah update postingan di halaman facebook, justru seorang saudara di ujung Jawa Timur menyampaikan rasa bela sungkawanya atas kepergian Simbah Putri. Bagaikan tersambar petir, secara spontan saya bergegas mencari hp. Setelah beberapa saat mengingat dan mencari keberadaan hp, akhirnya saya langsung membuka beberapa catatan yang ada di dalamnya. Setidaknya ada dua-tiga kali panggilan telefon dan ada beberapa pesan sms yang masuk. Dan yang semakin membuat saya lemas, sebuah sms memberikan kabar bahwa Simbah telah tiada, berpulang ke haribaan-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Raya | Tag , | 2 Komentar

Sabtu Pagi Bersama Kyai Budi

Kyai BudiSabtu pagi itu memang di luar rutinitas sehari-hari. Dengan tergesa saya harus bangun ekstra lebih pagi. Langsung mandi dan menanti waktu adzan berkumandang. Tentu saja, sangat tidak seperti biasanya. Begitu sholat Subuh tertunaikan, sebuah taksi langsung saya naiki melaju membelah Surabaya yang belum terbangun dari mimpi indahnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , , , , | 2 Komentar

Emansipasi dari Desa

YuGindulSebut saja namanya Yu Sarjum. Ia adalah perempuan kebanyakan yang hidup sederhana di suatu desa yang jauh dari hiruk-pikuk kebisingan kota. Sebagai janda dengan tiga orang anak, ia sehari-hari harus membanting tulang mencari nafkah sebagai buruh tani. Pekerjaan seperti menanam padi, menyiangi rumput di sawah, hingga memanen hasil bumi menjadi tumpuannya untuk terus mempertahankan hidup. Meskipun tidak mudah dan menguras tenaga, namun ia jalani semuanya penuh dengan kepasrahan kepada Tuhan. Ia sangat yakin bahwa setiap usaha manusia tidak akan pernah sia-sia.

Ada lagi Lik Tumbu. Semenjak remaja ia telah mewarisi keahlian membuat tempe gembus dari orang tuanya. Ampas sisa produksi tahu di kampung sebelah diolahnya menjadi tempe gembus yang dibungkus dengan daun pisang atau awar-awar yang dilapisi kertas koran bekas. Malam selepas Isya’ ia membungkus adonan tempe gembus dengan dibantu beberapa tetangga. Keesokan harinya, ketika cahaya matahari masih remang-remang temaram menyapa pagi, ia sudah bergegas menggendong dagangan tempe gembusnya ke pasar kecamatan. Bukan hanya sebulan dua bulan profesi itu ditekuninya, tetapi puluhan tahun. Ia setia membuat tempe gembus untuk melayani para pelanggannya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , | Meninggalkan komentar