Sedekah Sedari Bocah

Kala itu senja menjelang matahari tenggelam. Mendung yang bergelayut seolah mengundang kelam malam untuk datang lebih awal. Sudah semenjak beberapa hari rintik hujan mulai turun dengan teratur di awal musim penghujan yang sudah sekian lama datang tertunda. Dalam suasana yang temaram numun terasa syahdu nan sejuk tersebut, Kanjeng Bapak baru menginjakkan kaki kembali di Ndalem Ngisor Blimbing setelah seharian penuh ngglidhik mengadu nasib di pusat kota.

Belum juga sempat mandi dan bebersih diri sebagaimana biasa menjelang kumandang adzan Maghrib, justru si Ponang tergopoh-gopoh menghampiri. Dengan ekspresi wajah sumringah ia segera berkisah, “Pak, mau bar jajan dijujuli dhuwit receh sewunan. Bar kuwi¬† aku sedekah ning pengemis tuwa sing ning gerbang sekolahan. Aku ikhlas lho Pak!” Intinya sang bocah bercerita bahwa ketika jajan di sekolah mendapatkan uang koin kembalian seribuan. Koin tersebut kemudian disedekahkan kepada pengemis tua yang ada di gerbang sekolah.

Subhanallah, pujian apalagi yang pantas terbatin di lubuk sanubari ke hadirat-Nya. Secara usia, si Ponang memang baru berusia enam tahun. Baru masuk SD dan sedang senang-senangnya bertemanan di sekolah baru, SD Panglima Jaya. Terhanyut dan terharu sungguh dalam Kanjeng Bapak demi mendengar kisah singkat dari buah hati tercintanya. Dengan anggukan yang mendalam, ia mengacungkan jempol memberikan apresiasi kepada si Ponang seraya berucap, “Pinter, Le! Alhamdulillah”. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Ironi Kenaikan BBM

Memang BBM versi Gus Mul dipanjangkan menjadi bola-bali mundhak, alias sering-sering naik harganya. Dan keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM inilah yang menjadi hotnews di berbagai media semenjak malam tadi. Bagaimana tidak miris mendengar ketika sang presiden dengan kalimat datar memberikan pengumuman bahwa pemerintah memutuskan untuk memindahkan subsidi BBM ke sektor-sektor yang lebih produktif. Memang tidak bicara langsung menaikkan harga BBM, namun pada kenyataannya ya harganya memang naik to?

Kalau memang subsidi BBM telah sangat memberatkan neraca APBN yang dapat mengancam kepada defisit anggaran, rakyat pasti legowo jika selisih kenaikan harga BBM dipergunakan untuk menyelamatkan anggaran tersebut. Jika subsidi ternyata telah salah sasaran dan lebih banyak dinikmati kalangan menengah ke atas, sehingga subsidi tersebut perlu ditekan dan disalurkan kepada yang lebih berhak, pastinya rakyat setuja-setuju juga. Terlebih jika dana penghematan subsidi BBM disalurkan untuk dana kesehatan, pendidikan murah, infrastruktur jalan, rel, pelabuhan, bandara, irigasi, transportasi, dan lain-lainnya, sudah pasti rakyat mendukung sepenuh hati. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | Tinggalkan komentar

Lentera dari Rusia

Pernah mendengar festival balon udara. Balon udara yang saya maksudkan tentu saja bukan balon isian gas karbit, tetapi balon yang diisi dengan asap yang bersumber dari titik api yang dipasang pada bagian bawah balon. Balon semacam ini banyak diterbangkan di daerah pedesaan Jawa Tengah, khususnya pada Hari Lebaran. Meski menurut saya tidak sepenuhnya tepat, kalangan masyarakat kota lebih akrab dengan istilah lantern. Lantern mungkin lebih setara dengan istilah lampion.

Berbeda dengan balon lebaran, lantern berukuran jauh lebih kecil. Mencermati kata “lantern” saya justru mengasosiasikannya dengan kata lentera. Lentera identik dengan pelita atau lampu berbahan bakar minyak yang dipergunakan sebagai penerang di kegelapan malam. Di masa kecil pada waktu kampung halaman kami belum terjamah listrik masuk desa, lentera alias lampu senthir menjadi penerang andalan untuk mendukung aktivitas masyarakat di kala malam. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Hujan di Bulan November

Kalau kita sempat mengingat November Rain dari Guns and Roses, tentu kita tidak menolak bahwa bulan November memang merupakan tahapan menuju puncak bulan penghujan. Bukankah setelah November segera datang bulan Desember yang merupakan gedhe-gedhene sumber. Bahkan selanjutnya datang pula bulan Januari yang identik dengan hujan sehari-hari. Kedua bulan terakhir dari pengalaman nenek moyang dinyatakan sebagai puncak musim penghujan. Namun apakah hal tersebut masih merupakan fakta di masa kini?
Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | 1 Komentar

Kenduri Cinta November 2014

KENDURI CINTA | NEGERI SETENGAH HATI | 14 November 2014, 20:00 WIB | Taman Ismail Marzuki, Jakarta

KC Nov 2014

 

 

Sampingan | Posted on by | Tag , , | 1 Komentar

Pahlawan dari Desa

Kita makan nasi yang ditanak dari beras. Beras berasal dari gabah yang ditumbuk atau digiling dan dipisahkan dari kulitnya. Gabah berasal dari buliran padi yang menjuntai pada tangkai tanaman padi, yang ditanam oleh para petani. Apakah ketika kita menyantap nikmatnya nasi putih yang hangat mengepul dengan rasa pulen berpadu aroma harum, kita masih mengingat jasa petani?

Bagi masyarakat desa yang lahir, tumbuh, hingga besar bahkan menjadi bagian dari lingkungan petani, tentu saja mereka mengenal dengan sangat baik kehidupan para petani dalam mengolah tanah. Mulai tanah dibajak, diluku, dan digaru agar menjadi lumpur yang gembur dan subur. Selanjutnya pada hamparan lumpur tersebut benih padi yang sebelumnya telah disemai ditata sambil mundur atau ditandur, ditata karo mundur. Sebuah pekerjaan yang menuntut ketelitian dan ketelatenan yang ekstra tinggi. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | Tinggalkan komentar

Rejeki Mbanyu Mili

Blongkeng4Kejaba diparingi jiwa lan raga kang sehat tanpa rubeda, manungsa mesti wae pingin uga diparingi gangsar dalan rejekine. Ora mesti kudu akeh, nanging sing baku rejeki bisa mbanyu mili kanthi  berkah lumeber. Senajan sithik ning ajeg lan syukur-syukur sarwa ngepasi butuh ngepasi ana.

Kang aran rejeki mono wujude maneka warna, ora mung winates wujud dhuwit. Awak seger waras kuwi rejeki. Titipan momongan kang sholeh utawa sholihah kuwi uga rejeki. Tangga teparo kang tansah semanak lan guyub rukun uga rejeki. Kepinteran pikir, keprigelan raga, gangsare sakabehing urusan mesti wae uga wujud rejeki. Wosing rembug, sakabehing perkara kang diparingake Gusti kanggo kamulyaning uripe para menungsa bisa diarani rejeki. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag | Tinggalkan komentar