Mengajarkan Batita Bahasa Asing, Pentingkah?

Jaman memang bergulir ke era global. Setiap hal tidak lagi dipandang dari sudut lokal dan nasional, tetapi harus diperluas ke tingkat regional hingga internasional. Interaksi manusia tidak lagi tersekat-sekat dalam batasan geografis dan negara. Seolah masyarakat dunia ke depan akan semakin cair dan membaur satu sama lain. Dari sudut pandang inilah, bahasa memiliki peranan sangat strategis sebagai sarana untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Dikarenakan interaksi manusia sudah melampaui batasan negara, maka mau tidak mau dan suka tidak suka, penguasaan bahasa asing menjadi sedemikian penting.

Lalu sejak kapankah para orang tua harus mulai memperkenalkan penggunaan bahasa asing? Apakah penting memperkenalkan bahasa asing sejak usia batita? Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , | Tinggalkan komentar

At Ta’awun, Masjid Anggun di Puncak Pass

Dimanapun posisi masjid tentu akan menjadi magnet bagi ummat Islam sejati untuk senantiasa menyambanginya. Sebagai rumah Allah, di masjidlah aktivitas utama peribadahan dilaksanakan. Perpaduan pancaran aura energi suci dari para hamba yang taat, serta arsitektur bangunan masjid yang syahdu pasti akan lebih lengkap lagi jika ditambah dengan keindahan landskap pemandangan yang menjadi latar belakangnya. Sungguh sebuah paduan yang lengkap untuk menghanyutkan jiwa dan raga hamba Allah untuk ‘isyik dalam lautan anugerah Ilaihi Rabbi.

At Ta'awunSalah satu masjid yang memiliki perpaduan indah yang saya maksudkan di atas adalah Masjid At Taa’wun di Puncak Pass, tepat di titik perbatasan wilayah Kabupaten Bogor dan Cianjur. Masjid yang terletak di Jalan Raya Puncak Km 91, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor ini telah berdiri semenjak tahun 1997. Masjid ini konon berkembang dari masjid sederhana yang dikhususkan untuk pegawai dan karyawan PT Gunung Mas yang merupakan perusahaan pengelola perkebunan teh Gunung Mas di wilayah tersebut. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | 1 Komentar

Tuhan Tuhan Batu

Sejak di bangku sekolah dasar kita telah diperkenalkan tentang sejarah perkembangan berbagai agama di Nusantara. Konon jauh sebelum agama-agama besar sebagaimana yang kini telah ada, nenek moyang kita telah menganut kepercayaan lokal yang disebut sebagai animisme dan dinamisme. Dua istilah ini senantiasa diartikan sebagai kepercayaan terhadap roh-roh leluhur ataupun roh-roh yang bersemayam pada benda-benda yang ada di sekitar lingkungan manusia, apakah pohon besar, batu besar, bahkan gunung-gunung dan samudera. Ada persepsi yang terlampau menyederhanakan pemahaman bahwa nenek moyang bangsa Nusantara adalah penyembah batu, pohon, gunung, samudera, dll.

Dalam kisah dakwah Nabi Ibrahim kepada kaumnya, Ibrahim merupakan putera dari seorang pembuat patung bernama Azar. Patung yang dibuat oleh ayah Ibrahim bukan sembarang patung yang hanya digunakan untuk mematut rumah dan taman-taman, patung tersebut dibuat untuk menjadi tuhan sesembahan. Maka salah satu misi dakwah Ibrahim adalah menghancurkan patung-patung berhala dengan kapak yang kemudian kapak dimaksud dikalung pada leher patung yang terbesar. Kisah ini sangat legendaris dan disukai oleh anak-anak sebagai dongeng yang banyak diceritakan oleh Guru Agama Islam. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | 1 Komentar

Kusumaning Ati

Didi Kempot

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kusumaning ati
Duh wong ayu kang tak anti-anti
Mung tekamu bisa gawe tentrem ning atiku

Biyen nate janji
Tak ugemi ora bakal lali
Tur kelingan jroning ati sak bedhahing bumi Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | 1 Komentar

Tol Baru Picu Kemacetan Baru

Bicara kemacetan di ibukota? Ah, itu mah soal biasa. Tiap hari Jakarta memang macet. Semua warga negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke juga tahu soal hal itu. Namun tentu saja tidak semua dari warga tadi benar-benar merasakan atau bahkan merana setiap hari akibat mengalami kemacetan setiap hari. Hanya warga Jakarta dan sekitarnya atau orang yang sedang punya urusan di ibukotalah yang menikmati pahitnya kemacetan tadi. Untuk transportasi jalan raya, jarak 20 atau 30 km di jam pergi atau pulang kerja sangat biasa jika harus ditempuh paling cepat selama 2 jam. Ya, itu tadi karena macet!

Jalan tol? Dulu memang orang mengartikan jalan tol sebagai jalan yang bebas hambatan. Bebas hambatan tentu saja juga bebas kamacetan. Bagaimana mungkin jalan berbayar kok tidak bisa mengantarkan penggunanya menuju tempat tujuan dalam tempo yang lebih singkat? Namun itu cerita soal jalan tol di masa lalu! Hal seperti itu di masa kini hanya tinggal kenangan. Sebuah kisah klasik sejarah yang tidak pernah kembali lagi. Sungguh sayang seribu sayang! Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | Tinggalkan komentar

Satu Hari Satu Kebaikan

Jonan2Ada satu lagi catatan poin penting dari Kompasianival 2014 yang disampaikan oleh Kemenhub Ignasius Jonan yang hampir terlupakan untuk dituliskan kembali. Di akhir sambutan pidato pembukaan kopdaran blogger terbesar di sepanjang tahun 2014 ini, beliau menghimbau kepada setiap insane warga negara Indonesia, khususnya para Kompasianer yang hadir, untuk turut melakukan Aksi untuk Indonesia. Benar-benar aksi nyata! Bukan lagi sekedar isapan jempol ataupun jargon kosong. Caranya bagaimana? Satu hari, satu kebaikan.

Satu hari, satu kebaikan? Maksudnya bagaimana ya? Setiap warga negara merupakan komponen yang sangat penting dalam maju atau mundurnya sebuah negara. Meskipun pemerintah memiliki perangkat aparat, system birokrasi, sarana dan prasarana penunjang untuk melaksanakan program-program pembangunan, tetapi tidak aka nada artinya sama sekali tanpa dukungan penuh dari setiap warga negara. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | 3 Komentar

Dolanan Mil-milan

Mil-milanDolanan mil-milan? Baru dengar kali ini? Mengacu kepada kata dolanan, tidaklah salah jika kita dengan sangat mudah menduga bahwa mil-milan merupakan sejenis permainan. Jenis permainan ini tentu bukan kelasnya game modern yang dikemas untuk dimainkan dengan peralatan elektronik semacam handphone, gadget, komputer dlsb. Lebih tepatnya, dolanan mil-milan termasuk permainan tradisional yang kini semakin jarang (untuk mengatakan tidak pernah) lagi dimainkan anak-anak modern. Atau jangan-jangan para orang tua generasi sekarang bahkan tidak tahu kepada permainan ini.

Saya sendiri tidak tahu pasti siapa dan kapan mil-milan ini diciptakan. Di wilayah padesan Tepi Merapi, semasa usia SD, saya bersama dengan kawan-kawan sering memainkannya.  Jangankan gadget dan smartphone yang menjadi pegangan anak sekolah sekarang, di masa itu tentu saja anak-anakpun sangat jarang memegang alat main yang dibeli. Hal ini tentu saja tidak lepas dari faktor keterbatasan-keterbatasan yang ada. Ya, keterbatasan ekonomi, keterbatasan jaman pula. Namun kondisi demikian justru menjadikan anak-anak masa lalu kemudian lebih aktif menciptakan permainan-permainan dengan bahan seadanya yang ada di sekitar mereka. Termasuk yang namanya dolanan mil-milan ini. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | 2 Komentar