Pesta Sebelum Bekerja

JKJKLazimnya sebagai ummat beragama, setiap langkah kerja senantiasa diawali dengan doa. Dalam tuntunan Islam, bahkan setiap kerja dapat diniatkan sebagai amal ibadah. Pada titik inilah bisa jadi doa menjadi benang merah penghubung dimensi kehidupan duniawi dan ukhrawi, antara dimensi horisontal dan vertikal, sebuah pijakan transedental antara manusia dengan Tuhannya.  Jika setiap kerja senantiasa dilaksanakan pada pijakan transendetal diharapkan tidak ada penyalahgunaan kerja yang dapat menimbulkan kerugian atau ketidakmanfaatan bagi manusia, bagi alam, dan tentunya untuk Tuhan. Kerja adalah sebuah karya untuk memperbesar kemanfaataan sebagaimana tuntunan Tuhan. Alangkah indahnya dunia. Anda sepakat? Nah, bagaimana jika justru sebuah kerja dimulai dengan pesta?

Secara formal, mungkin pesta sebelum bekerja tidak menjadi masalah. Tetapi mungkin dari segi aspek moral, etika, budaya, atau agama sebagaimana telah terpapar dalam uraian sebelumnya, apakah hal tersebut sudah tepat? Dalam khasanah tradisi keseharian, baik di lingkungan keluarga, kerja, ataupun kelompok masyarakat yang lebih luas, setidaknya kita mengenal syukuran atau tasyakuran, di samping ada pula “selametan“. Apakah ada relevansinya dengan pesta? Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | Tinggalkan komentar

Air dan Api

Panas! Dimana-mana serasa panas. Tidak siang, tidak malam, sepanjang hari kok rasanya kemrangsang. Kita serasa dimasukkan ke dalam oven. Tidak hanya sekedar keringat bercucuran, segala sendi dan tulang menjadi sedemikian tidak nyamannya. Apa iya dunia memang sudah berubah menjadi neraka? Bukankah yang serba panas, yang serba api itu konon hanya ada di neraka.

Kemarau tahun ini memang sudah sedemikian panjangnya. Bulan ber-ber, mulai September, Oktober, November, dan Desember konon dulunya sangat identik dengan tingginya curah hujan. Ber-ber, menandakan masa puncak mengalirnya sumber-sumber air. Sepanjang hari, sepanjang minggu dan selama beberapa bulan di penghujung tahun biasa diwarnai dengan hujan, hujan dan hujan. Tetapi lain dulu, lain kini. Hitungan ber-ber seolah sudah meleset jauh, Jangankan hujan, lha sekedar mendung saja seringkali hanya menghampiri sesaat seolah sengaja memberi harapan palsu. Manusia seolah sedang di-php. Benar nggak sih? Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Gus Mul Gebrak IniTalkShow

Gus Mul jagongan bareng Sule! Tenanan? Darimana tahunya? Dari sebuah foto yang dipajang Gus Mul di fanpagenya. Anda percaya? Sayapun seketika langsung geleng-geleng kepala, alias nggumun. Lha bagaimana tidak nggumun, saya semakin kagum dengan hasil editan sotosopnya Gus Mul. Tampang ndesonya yang lugu sangat nature di hadapan Sule menyamping. Sebuah gambar yang teramat sempurna untuk sebuah hasil editan dengan software apapun.

Bagi Anda yang belum sempat mengenal atau berkenalan dengan Gus Mul, mungkin tidak ada salahnya Anda menelusurnya di sini. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | 14 Komentar

Aku Besar dan Aku Kecil

Soal besar dan kecil, tentu kita sadari bahwa keberadaan dua hal yang berbeda serta terkesan kontradiktif tersebut justru merupakan sebuah wujud sunatullah yang menyangga gerak roda kehidupan. Besar dan kecil, tak ubahnya ada dan tidak ada, kaya dan miskin, siang dan malam, tinggi dan rendah, pandai dan bodoh, sehat dan sakit, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, fana dan kekal, semua hadir berpasang-pasangan sebagai sebuah keniscayaan dunia. Masing-masing pasangan tersebut akan selalu ada dan hadir sebagai syarat sebuah keseimbangan atau harmonisasi kehidupan manusia.

Dalam kesempatan ini saya ingin berbincang mengenai besar dan kecil dalam konteks keakuan, kedirian, cinta, dan juga sikap kepemimpinan seseorang. Secara naluri kemanusiaan, seseorang tentu saja memiliki egosentris untuk mengutamakan dan mengedepankan kepentingan dirinya sendiri. Tanpa pengendalian yang tepat, egoisme yang muncul bisa berakibat menjadi perbuatan memanfaatkan, memperalat, bahkan mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , , | 3 Komentar

Pesona Keraton Ratu Boko

Prambanan1Ratu Boko sangat lekat dengan legenda Roro Jonggrang. Ratu, dalam khasanah bahasa Jawa mengacu kepada sebutan pemimpin sebuah ke-ratu-an atau keraton. Dengan demikian makna ratu sejajar dengan raja yang merujuk pemimpin kerajaan. Ratu juga tidak merujuk gender lelaki atau perempuan. Begitu halnya dengan sebutan Ratu Boko. Ia juga kerap disebut sebagai Prabu Boko.

Prabu Boko merupakan raja yang beristana di sisi timur Kali Opak. Namanya tenar seantero tanah Jawa. Konon ia memiliki puteri yang cantik jelita bernama Roro Jonggrang. Kecantikan sang puteri menjadikan banyak pangeran dan raja dari negeri lain ingin mempersuntingnya untuk dipermaisurikan. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | 1 Komentar

Menegakkan Pagar Miring

Salah satu segmen kisah petualangan bergurunya Nabi Musa kepada Nabi Khidzir adalah ketika mereka berdua sampai pada sebuah perkampungan yang dihuni oleh orang-orang yang tidak bersahabat, berperilaku tercela, pokoknya para pelaku kemaksiatan kelas wahid wis. Nah pada saat keduanya menjumpai sebuah rumah kosong, sudah mau roboh, pagar dan dindingnya miring, justru Khidzir mengajak Musa untuk membenahi, terutama menegakkan pagar yang miring.

Meskipun Musa menuruti semua perintah Khidzir tetapi ia tidak kuasa untuk menahan rasa ingin tahunya. Akhirnya Musa lupa dengan pantangan tidak boleh menanyakan apapun pada saat ia bersama Khidzir. Apabila Musa menanyakan sesuatu yang dikerjakan Khidizir hingga tiga kali, maka di saat itulah waktu perpisahan telah tiba. Akhirnya menjelang perpisahan sebagaimana telah menjadi perjanjian mereka berdua, Khidzir mbabar rahasia setiap hal yang dikerjakannya yang senantiasa seolah bertentangan dengan nalar logikanya Musa. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Tuah si Bocah Sungsang

Genduk1Sedikit-sedikit, sebagai orang Jawa, tentu saya pernah menyimak lakon wayang “Ruwat Murwa Kala”. Di dalam kisah wayang yang sering dipentaskan pada hajatan ruwatan tersebut Ki Dalang pasti medhar sabda mengenai keadaan-keadaan yang karena sebab-sebab tertentu harus menjalani ritual ruwat. Ruwat dalam bahasa Arab disepadankan dengan kata tahlukah, artinya penebusan dosa. Dalam makna yang lebih luas, ruwat bisa saja dimaknai dengan upaya pembersihan diri untuk membuang anasir negatif atau kesialan hidup.

Nah salah satu ciri seseorang, terutama sewaktu masih usia bocah, yang wajib menjalani ritual ruwatan adalah bocah yang terlahir secara sungsang. Maksud dari kelahiran sungsang, adalah posisi si jabang bayi dalam proses persalinan yang terbalik dari kebanyakan kelahiran bayi pada umumnya. Jika bayi secara normal terlahir dengan keluarnya bagian kepala terlebih dahulu, maka bayi sungsang justru terlahir dengan bagian kaki atau bagian bawah tubuh yang keluar dari dalam rahim terlebih dahulu. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | Tinggalkan komentar