SUMMARECON, KONSEP SPEKTAKULER KOTA BEKASI MASA DEPAN

Manusia modern tentu tidak akan lagi hanya mencukupkan kebutuhan primernya kepada pangan, sandang, dan papan. Di samping ketiga kebutuhan pokok tersebut, kebutuhan pokok manusia terus berkembang menurut kemajuan jaman. Kesehatan hidup yang terjamin dan pendidikan yang berkualitas menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kehangatan pergaulan dan interaksi dengan keluarga, tetangga, teman-teman, hingga para kolega jauh juga menjadi sebuah nilai yang mencirikan kebahagiaan seseorang. Semua kebutuhan ataupun tujuan hidup di atas tentu saja memerlukan sarana dan prasarana untuk mewujudkannya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Magelang-Jogja Pulang-Pergi

Penggalan catatan kisah yang menjadi salah bagian Buku MAGELANG MEMBACA#2

MM2Menjelang tengah dekade 90-an berhasil juga saya lampaui bangku sekolah menengah di samping toko Tape Ketan Muntilan itu. Melanjutkan ke sekolah yang mana, merupakan sebuah pertanyaan yang tidak terlalu mudah untuk dijawab kala itu. Sebagian teman-teman nampaknya sudah bulat untuk bedhol kelas ke satu-satunya SMA negeri di kota kecil Muntilan. Sementara saya sebenarnya lebih suka untuk meneruskan studi di sekolah kejuruan. Bukan lain dan tidak salah, tujuannya agar segera lulus dengan ketrampilan dan selekasnya terjun ke dunia kerja. Enam orang jumlah anak-anak bapak mendorong saya untuk berpikir sepraktis mungkin.
Tatkala beberapa teman nekad menyebrang untuk mendaftar ke sekolah-sekolah di tetangga provinsi, sayapun menjadi tertarik dengan ide-ide mereka. Paling tidak di benak sebagian besar warga negeri ini, tetangga provinsi tersebut sudah sangat populer dan diakui sebagai kota pelajar, kota pendidikan, sekaligus kota budaya. Itulah kota Jogjakarta di sebelah selatan wilayah Magelang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Sastra | Tag , , | 1 Komentar

Shiratal Mustaqiem, Pesona Masjid di Tepian Tol Jakarta-Merak

Mustaqiem1Masjid Shiratal Mustaqiem, mungkin nama sebuah masjid yang terdengar cukup panjang. Shiratal Mustaqiem sebagaimana kita ketahui merupakan penggalan salah satu ayat di dalam Surat Al Fatihah. Shiratal Mustaqiem berarti jalan yang lurus. Nama tersebut sebenarnya sangat berhubungan erat dengan lokasi keberadaan Masjid Shiratal Mustaqiem itu sendiri. Rumah Allah yang satu ini memang terletak tepat di pinggiran jalan yang lurus, sebuah ruas jalan tol yang menghubungkan Jakarta – Merak, tepatnya pada Km.20 di sisi kiri gerbang Tol Kota Tangerang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , | Tinggalkan komentar

Jokowi Nggege Mangsa

Nggege mangsa dapat diartikan terlalu dini. Dalam konotasi lebih dalam nggege mangsa bahkan dimaknai “mendahului takdir”. Takdir memang sebuah ketetapan final yang menjadi hak prerogratif Tuhan. Namun demikian, sebelum sampai kepada keputusan yang ditetapkan sesungguhnya manusia memiliki peluang dan kesempatan untuk “menuliskan takdirnya” masing-masing. Hal inilah yang disebut sebagai ikhtiar atau usaha manusia.

Konteks nggege mangsa sengaja saja penulis kaitkan dengan fenomena pencalonan Jokowi sebagai calon presiden kali ini. Mengapa penulis berpendapat Jokowi kok nggege mangsa? Tidak mengurangi rasa hormat dan kagum saya kepada Beliau Joko Widodo atas prestasi-prestasinya saat menjabat Walikota Surakarta, namun ada beberapa hal yang menurut penulis kurang trep, kurang pas, juga mungkin kurang pantas dalam tatanan unggah-ungguh budaya dan nilai ketimuran kita. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Tinggalkan komentar

Tayang Perdana Wayang Orang di Tangerang

Wayang TangerangTangerang merupakan salah satu kawasan penyangga ibukota Jakarta. Keberadaan warga masyarakat Tangerang menjadi sedemikian heterogen karena terdiri atas berbagai asal-usul suku dan tenis bangsa. Di Tangerang sudah pasti ada orang Betawi, ada orang Sundanya, orang Jawa, Sumatera, dan juga warga yang berasal dari kawasan Indonesia Timur. Bahkan di Tangerang hingga kini juga eksis warga masyarakat keturunan Tionghoa yang juga telah menjadi kesatuan warga masyarakat di Tangerang. Keberadaan masyarakat yang plural tersebut sudah pasti disertai pula dengan keanekaragaman seni budaya yang diwarisi secara turun-temurun hingga kini. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Tangerang juga merupakan salah satu miniatur Indonesia. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | 8 Komentar

Mobil Kecil, Mobil Besar di Mata Anak Kecil

SepedariaPagi itu hari Rabu Pon, bertepatan dengan Hari Coblosan. Hari pesta demokrasi bagi rakyat yang berdaulat dan memiliki jiwa merdeka untuk menentukan pilihan politiknya. Hari pemilu tentu sangat menggembirakan. Paling tidak hari tersebut telah ditetapkan sebagai hari libur. Para pegawai kantor libur. Anak sekolah, mahasiswa kuliahan, para buruh dan karyawan pabrikpun demikian.

Sebagaimana hari-hari libur yang lain, pagi hari biasa dimanfaatkan oleh Pak’e Kenyung mengajak si Kenyung bersepeda ria. Di samping untuk berolah raga dengan melemaskan otot-otot kaki, bersepeda juga bisa menjadi ajang cuci mata ataupun melihat-lihat pemandangan di lintasan perkampungan di pinggiran ibukota. Ada deretan perumahan-perumahan yang masih baru. Ada perkampungan yang padat dengan deretan rumah-rumah yang berdiri sembarangan. Ada hamparan sawah dan ladang yang tersisa dari gusuran pembangunan. Ada pasar, sekolah, bahkan taman-taman buatan yang belum memberikan kerindangan pepohonan barunya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Antara Pilih Orang atau Pilih Uangnya

pemilu-2014-2Pemilu dulunya memang digagas sebagai pesta rakyat. Berbondong-bondong rakyat dari sekalian penjuru dusun dan gunung mendatangi tempat pemungutan suara. Hari-hari yang biasanya diisi dengan kerja di sawah dan lading, pada hari coblosan sengaja diistirahatkan khusus untuk mangayubagyo hajatan negeri yang konon mengibarkan system demokrasi ini. Kantor-kantor, sekolah-sekolah, termasuk juga pabrik-pabrik juga turut menikmati liburan seharian. Bahkan pasar-pasar yang sudah selalu menyatu dengan aktivitas para simbok bakul, para pembeli, juru parkir, juga para pengemis juga menjadi sepi. Semua lapisan masyarakat terfokus segala perhatiannya kepada hajatan pemilihan wakil rakyat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , , | 2 Komentar