Kenal Raden Sahid

Entah kesambet hantu pahlawan darimana, malam itu si Ponang tiba-tiba nyeletuk bertanya kepada Kanjeng Bapak, “Pak, Bapak kenal dengan Raden Saleh?

Yang ditanya sedikit kaget sehingga kepalanya njenggelek serius. Bukannya langsung menjawab dengan jawaban yang diperlukan anaknya, Kanjeng Bapak malah balik bertanya, “Lha emange kamu itu gek ngerti Raden Saleh darimana to Le?

Ya dari Bu Guru. Kata Bu Guru, Raden Saleh pelukis ya Pak? Benar ya dia melukis penculikan Pangeran Diponegoro?” si Ponang cerdas menjawab dan langsung memberondong Kanjeng Bapakanya dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang lain. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Napak Tilas Stasiun Secang

Stasiun Secang    Stasiun Secang1

Secang merupakan sebuah kota kecil di sisi utara Kabupaten Magelang. Kota ini merupakan titik penghubung jalur utama Jogja-Semarang dengan jalur tengah Jawa Tengah yang menembus Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, hingga Purwokerto. Posisi yang sangat strategis ini sudah semenjak jaman penjajahan Belanda diperankan oleh Kota Secang. Di samping jalur transportasi jalan raya yang sudah ada semenjak pemerintahan Mataram, pada masa Belanda Secang menjadi titik perlintasan jalur kereta api yang sangat penting.

Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Perserikatan Bangsa Nusantara

Sebagai anak bangsa Indonesia, kita tentu mengenal banyak nama-nama suku di tanah air. Mulai dari Aceh, Batak, Nias, Minang, Melayu di Sumatera. Sunda, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sasak, hingga Flores di sisi selatan Indonesia. Ada juga Dayak di Kalimantan. Ada Manado, Gorontalo, Keimana, Mandar, Makassar, Bugis, Toraja di Sulawesi. Termasuk tentunya Ambon, serta  Asmat, dan Dani di Papua. Konon di Nusantara terdapat lebih dari 200 suku bangsa dengan masing-masing adat dan tradisinya. Maka sangat relevan semboyan Bhinneka Tunggal Ikha, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Wikipedia pada halaman webnya mendefinisikan suku bangsa sebagai suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut seperti kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri biologis (genetik). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Arti Akar Sejati Kepemimpinan

NanangHPSeorang dalang muda penggagas wayang urban malam itu bersabda, “Dalam sebuah pementasan  pagelaran wayang, wayang baru dikatakan benar-benar hidup jika para penonton sudah tidak lagi melihat siapa tokoh dalang di balik pagelaran tersebut. Lebih luas dalam konteks kepemimpinan Indonesia ataupun Nusantara, negeri ini baru bagus jika sudah tidak lagi penting siapa yang menjadi pemimpinnya karena yang dilihat dari seorang pemimpin bukan lagi bibit, bobot, atau bebet juga bukan soal kapasitas, kapabilitas, dan legalitas, tetapi semata-mata yang dilihat hanyalah karya nyata pengabdiannya kepada negara.”

Terus terang saya sangat terkesima dengan pembandingan dua panggung sandiwara dunia tersebut. Wayang bermakna bayang-bayang atau bayangan. Kisah wayang merupakan bayang-bayang atas refleksi kehidupan manusia di panggung dunia. Di jagad pewayangan ada karekter kebaikan dan kejahatan, kebajikan dan keburukan, kejujuran dan kebohongan, keserakahan dan kedermawanan. Intinya ada jagad hitam dan putih, kekuatan kebaikan dan kejahatan. Pentas panggung kehidupan pada intinya merupakan perseteruan abadi antara dua kekuatan tersebut. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Menepi ke Makam Imogiri

Imogiri1Entah atas dorongan kejiwaan apa, semenjak ijir dan bisa mikir, si Ponang kecil selalu antusias bertanya tentang makam. Dia akan lebih excited jika benar-benar diajak ke suatu makam. Di samping makam para mbah buyut leluhurnya, tercatat ia pernah bersambang ke beberapa makam yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti Makam Kyai Raden Santri Gunungpring, Makam Sunan Ampel Surabaya, Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Makam Sunan Kudus di belakang Masjid Menara, Makam Sunan Muria di Gunung Muria, Makan Sunan Gunungjati Cirebon, Kuburan Cina Gremeng, dan yang terakhir pasca lebaran yang lalu ke Makam Raja-raja Mataram di bukit Imogiri.

Adalah pagi itu, kami berkendara roda dua menyusuri sebuah ruas jalan yang menjauhi kota Jogja ke arah tenggara. Jalanan saat matahari naik ke angkasa dipenuhi para warga yang berangkat menuju tempat aktivitas masing-masing. Ada para pedagang yang menuju pasar, ada pegawai kantoran yang berangkat ngantor, ada para pelajar yang menuju sekolah, bahkan deretan sepeda onthel yang mengantarkan para buruh berangkat makarya. Banyak pula pak tani yang tengah menuju sawah ladang di bulak-bulak tepian jalan. Bahkan ada pula gerobak sapi yang berjalan tersendat tertinggal oleh modernitas perubahan jaman. Jalanan yang padat ramai tersebut memberikan nuansa gambaran gerak hidup para manusia yang tengah menyonsong jalan rejekinya masing-masing. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , , , , | Tinggalkan komentar

Kelingan Tari Bondan

???????????????????????????????Lain dulu memang lain sekarang. Lain sekolah jaman dahulu, tentu saja lain pula sekolah jaman sekarang. Terlebih dengan gonjang-ganjing gonta-gantinya kurikulum yang membingungkan banyak orang. Bagi para guru pengampu pelajaran, mungkin mereka telah mendapatkan sosialisasi yang memadai meskipun saya ragu apakah mereka benar-benar paham dan mengerti untuk mengimplementasikannya di ruang kelas.

Lewat kurikulum baru, tentu saja banyak hal yang baru pula. Khusus untuk kelas satu SD misalnya. Orang tua sekarang tentu saja tidak akan menjumpai nama-nama mata pelajaran yang sama dengan jaman sekolahnya dulu. Diantara nama mata pelajaran yang masih asing adalah pelajaran T-E-M-A-T-I-K. Coba bayangkan gek isi pelajarannya tentang apa hayo? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag | Tinggalkan komentar

Sop Snerek, Menu Spesial Khas Magelang

Senerek1Tidak semua hal peninggalan bangsa penjajah selalu jelek bagi bangsa yang pernah dijajahnya. Pernah mendengar kata senerek? Konon senerek berasal dari kesleonya lidah wong Jowo ketika menyebutkan kata snert. Snert dalam bahasa Belanda berarti kacang polong hijau. Jenis kacang ini dimasak menjadi menu snert soup untuk menghangatkan badan pada musim dingin. Menu ini turut dibawa ke Nusantara pada saat tuan-tuan menir dan noni-noni Belande menjajah negeri kita.

Adalah Magelang, sebuah kota yang sengaja dirancang untuk mendidik calon militer Belanda. Di Kota Tentara pada dataran tinggi yang beriklim sejuk ini para Bule Londo tersebut tentu saja merasa kangen dengan menu sajian di kampung halaman Holand. Mereka teringat snert soup, maka dikenalkanlah sop istimewa ini dalam sajian-sajian menu keseharian maupun di kala pesta dansa-dansi para noni. Menu snert soup dibuat dari kacang polong rebus yang dipadukan dengan irisan daging babi lengkap dengan kuah kaldunya, ditambah dengan irisan kentang, wortel, dan bawang bombai. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Magelangan | Tag , , | 2 Komentar