Ngeri Pencuri di Malam Hari(2)

Dengan nalar yang sadar saya cepat berhitung. Jika yang berada di kegelapan malam pekarangan kosong tersebut benar-benar sekawanan pencuri yang kagol karena aksinya dipergoki orang, dapat saja akan mereka melampiaskan rasa marahnya kepada saya yang ndilalahnya hanya di backingi istri di belakang punggung. Rasanya kok saya tidak mau konyol dikeroyok kawanan pencuri. Akhirnya setelah saya rasa komunikasi mentok, saya putuskan untuk meninggalkan manusia bayangan di depan saya. Saya sungguh berharap mereka tidak melanjutkan lagi aksi kriminalnya.

Setelah masuk kembali ke dalam rumah, si Ponang langsung memberondong dengan beberapa pertanyaan, “Ada apa sih Pak? Siapa sih Pak di luar? Mereka ngapain ya? Bla….bla….bla….” Saya berusaha menjelaskan singkat bahwa ada pencuri di luar rumah sedang beraksi. Mereka mencuri sesuatu dari pabrik di belakang rumah. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , | Tinggalkan komentar

Oleh-oleh dari Ignatius Jonan

JonanSemenjak digelar rutin setiap tahun dari 2012, baru kali itu saya berkesempatan untuk merapat ke acara Kompasianival 2014. Kopdar Akbar para blogger yang tergabung dalam barisan Kompasianer ini bisa jadi merupakan kopdar terbesar di tahun 2014 ini. Sebelumnya memang ada Pesta Blogger, Blogger Nusantara, ASEAN Blogger Festival, ataupun Festival TIK yang juga menjadi ajang temu darat para penulis online yang juga dikenal sebagai citizen journalist.

Kompasianival kali ing mengusung tema “Kompasianival 2014: Aksi untuk Indonesia”. Kejutan pertama yang sangat berkesan dan memberi arti tersendiri justru hadir sejak di titik awal acara. Setelah kata sambutan yang disampaikan oleh Bang Edi Taslim dari pimpinan Kompasiana, acara dibuka oleh Ignatius Jonan. Siapa yang tidak kenal beliau? Ya, ia adalah mantan orang nomor satu di PT. KAI yang kini menahkodai Kementerian Perhubungan di Kabinet Kerja Jokowi-JK. Lalu kisah apakah yang dibagikan beliau di Kompasianival 2014? Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | 1 Komentar

Ngeri Pencuri di Malam Hari

Malam itu waktu Isya’ baru sesaat berlalu. Ketika hendak berwudlu di kamar mandi sudut rumah, justru mendengar suara klotak-klutik di sisi luar dinding. Sedikit berdebar, namun saya putuskan mengambil senter dan bergegas keluar. Kaki saya menuntun untuk melangkah ke samping rumah. Sejenak saya amati suasana sekeliling.¬† Nampak hening dan suara yang tadi menarik kecurigaan justru tak terdengar lagi. Akan tetapi pada saat sorot lampu senter menapaki dinding di pojokan rumah yang berbatasan langsung dengan pabrik di belakang rumah, ada sesuatu yang patut dianggap aneh. Ada sebatang tangga bambu tersandar di dinding!

Ketika sorot lampu senter coba saya edarkan ke sekeliling dengan lebih seksama, lho kok di kandang sapi terdapat bayang-bayang seseorang. Rupanya tubuh seseorang tertangkap cahaya yang lumayan terang temaram. Sosok tersebut kemudian melangkah mendekati saya. Dengan memberanikan diri, saya bertanya kepada sosok yang tidak sempat saya sorot raut mukanya tersebut. “Malam-malam sedang mbenerin apaan Bang?” saya mencoba membuka pembicaraan dengan pertanyaan netral. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , | 1 Komentar

Sedekah Sedari Bocah

Kala itu senja menjelang matahari tenggelam. Mendung yang bergelayut seolah mengundang kelam malam untuk datang lebih awal. Sudah semenjak beberapa hari rintik hujan mulai turun dengan teratur di awal musim penghujan yang sudah sekian lama datang tertunda. Dalam suasana yang temaram numun terasa syahdu nan sejuk tersebut, Kanjeng Bapak baru menginjakkan kaki kembali di Ndalem Ngisor Blimbing setelah seharian penuh ngglidhik mengadu nasib di pusat kota.

Belum juga sempat mandi dan bebersih diri sebagaimana biasa menjelang kumandang adzan Maghrib, justru si Ponang tergopoh-gopoh menghampiri. Dengan ekspresi wajah sumringah ia segera berkisah, “Pak, mau bar jajan dijujuli dhuwit receh sewunan. Bar kuwi¬† aku sedekah ning pengemis tuwa sing ning gerbang sekolahan. Aku ikhlas lho Pak!” Intinya sang bocah bercerita bahwa ketika jajan di sekolah mendapatkan uang koin kembalian seribuan. Koin tersebut kemudian disedekahkan kepada pengemis tua yang ada di gerbang sekolah. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Ironi Kenaikan BBM

Memang BBM versi Gus Mul dipanjangkan menjadi bola-bali mundhak, alias sering-sering naik harganya. Dan keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM inilah yang menjadi hotnews di berbagai media semenjak malam tadi. Bagaimana tidak miris mendengar ketika sang presiden dengan kalimat datar memberikan pengumuman bahwa pemerintah memutuskan untuk memindahkan subsidi BBM ke sektor-sektor yang lebih produktif. Memang tidak bicara langsung menaikkan harga BBM, namun pada kenyataannya ya harganya memang naik to?

Kalau memang subsidi BBM telah sangat memberatkan neraca APBN yang dapat mengancam kepada defisit anggaran, rakyat pasti legowo jika selisih kenaikan harga BBM dipergunakan untuk menyelamatkan anggaran tersebut. Jika subsidi ternyata telah salah sasaran dan lebih banyak dinikmati kalangan menengah ke atas, sehingga subsidi tersebut perlu ditekan dan disalurkan kepada yang lebih berhak, pastinya rakyat setuja-setuju juga. Terlebih jika dana penghematan subsidi BBM disalurkan untuk dana kesehatan, pendidikan murah, infrastruktur jalan, rel, pelabuhan, bandara, irigasi, transportasi, dan lain-lainnya, sudah pasti rakyat mendukung sepenuh hati. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | Tinggalkan komentar

Lentera dari Rusia

Pernah mendengar festival balon udara. Balon udara yang saya maksudkan tentu saja bukan balon isian gas karbit, tetapi balon yang diisi dengan asap yang bersumber dari titik api yang dipasang pada bagian bawah balon. Balon semacam ini banyak diterbangkan di daerah pedesaan Jawa Tengah, khususnya pada Hari Lebaran. Meski menurut saya tidak sepenuhnya tepat, kalangan masyarakat kota lebih akrab dengan istilah lantern. Lantern mungkin lebih setara dengan istilah lampion.

Berbeda dengan balon lebaran, lantern berukuran jauh lebih kecil. Mencermati kata “lantern” saya justru mengasosiasikannya dengan kata lentera. Lentera identik dengan pelita atau lampu berbahan bakar minyak yang dipergunakan sebagai penerang di kegelapan malam. Di masa kecil pada waktu kampung halaman kami belum terjamah listrik masuk desa, lentera alias lampu senthir menjadi penerang andalan untuk mendukung aktivitas masyarakat di kala malam. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Hujan di Bulan November

Kalau kita sempat mengingat November Rain dari Guns and Roses, tentu kita tidak menolak bahwa bulan November memang merupakan tahapan menuju puncak bulan penghujan. Bukankah setelah November segera datang bulan Desember yang merupakan gedhe-gedhene sumber. Bahkan selanjutnya datang pula bulan Januari yang identik dengan hujan sehari-hari. Kedua bulan terakhir dari pengalaman nenek moyang dinyatakan sebagai puncak musim penghujan. Namun apakah hal tersebut masih merupakan fakta di masa kini?
Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Tag , , | 1 Komentar